Langsung ke konten utama

Tumbal Keinginan

Tumbal Keinginan

Juli bulan pembatas usiaku saat itu
Ku harus rela melepas semua jas putih pengenal diri
Langkah kaki meninggalkan sejuta kenangan bersama
Dimana kutanam dan ditempa filsafat ikhlas dari guruku tersayang
Tegur sapa selalu menghias ruangan dikala sang surya  mulai menampakan diri
Diatas permukaan bukit
Relung hati selalu mengelabui bila semua itu terlukis kembali 
Dalam ilusi lamaku


Kini kuhanya bisa berdiri diatas permukaan bukit kecil
Dipinggir ombak yang bergemuruh
sembari memandangi keindahan terumbu-terumbu yang mulai terabaikan
Lambaian nyiur tak mampu kubalas bila kudengar sandaranku
berpijak pada angan-angan masa depanku hanya bisa mengelus dada
 dan mengusap wajah saat sandaranku menyapa kabartentang diriku

Ingin hati menyebrang ke Malaysia,
 namun selat Malaka tak jadi penghubung aku dan dia
Pasrah dan menyerah menuai bila ku baca Koran dan majalah
Tinggi tak mungkin ku daki 
dan dekat tak mungkin kumelangkah

Hujan protes selalu mengguyur badanku dikala ku teriakmemohon bandingan cita-cita
Tak ku sadari semua yang terjadi bahwa ku hidup di antaralangit dan bumi
Hingga perasaanlah yang menjadi tumbal keinginanku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi di balik Kerudung merah jambu eps 4

Sesuai janji Arian, tepat jam 9 pagi Zahra sudah berada di depan perpustakaan, tapi ia belum melihat sosok Arian. ia berjalan ke dalam perpuastakaan melewati beberapa rak buku, berharap Arian sudah menunggunya di pojok ruang perpustakaan tempat favorit mereka. Tapi seketika hati Zahra mencelos, ruangan tempat mereka kosong, ia tidak menemukan Arian disana. Ia memutuskan untuk duduk di teras perpustakaan sambil menunggu Arian. Ponsel Zahra bergetar, ada pesan masuk. Maaf aku telat, tapi aku sudah mengutus teman-teman untuk menemani kamu. From: Arian Sebelum Zahra membalas pesan Arian, teman-teman Arian sudah berada di depan perpustakaan. “Sabar ya Zahra, Arian masih ada kepentingan.” “Kepentingan apa kak?” “Dea menahan Arian untuk tidak pergi sama kita.” Kata Elis “Kok gitu, kenapa ga sekalian ikut aja?” “Kita juga bingung, Dea maunya apa.” Sahut Elis dengan nada kesal “Ya udah aku samperin aja ya.” “Ga usah Zahra.” “Kak Dea sama kak Arian pacaran ya kak?” “Enggak.” Tukas At...

Pelangi Di Balik Kerudung merah Jambu eps 2

Di sudut ruangan perpustakaan tampak Zahra dan Arian asyik bercanda dan tertawa, di sudut ruangan lainnya ada mata yang memandang mereka dengan tatapan marah, kecewa dan sedih, tetapi Zahra dan Arian tidak menyadarinya, mereka makin asyik bercanda sambil sesekali Zahra menjitak kepala Arian dengan pulpen. Arian membalas jitakan Zahra dengan mencoret hidung Zahra pakai spidol permanen. “Kak Arian curang.” Ujar Zahra sambil membersihkan hidungnya dengan tisu basah. “Biarin.” Kata Arian sambil memelet lidahnya. “Ya sudah ga aku beresin nih belajarnya bahasa Inggrisnya.” “Paling bisa deh ngancemnya, iya deh ga curang lagi.” “Awas kalo curang lagi.” “Bedaknya luntur tuh, habis kebawa tisu.” “Ga masalah, tetep cantik kok.” Mereka kembali asyik dengan buku dan pulpennya. Sepuluh menit berlalu, mereka fokus dengan belajarnya “Arian, malah mojok disini ternyata, kita-kita nyariin.” Seru segerombolan cewek-cewek anggun. Arian dan Zahra kompak menoleh kearah suara cewek-cewek yang suda...